Tata Kota Milenial

Sebuah artikel di situs Forbes menyebut bahwa kaum milenial Amerika Serikat memiliki daya beli hingga 200 miliar dollar setahun. Para pengusaha tentu tidak menyia-nyiakan peluang untuk mendapatkan rezeki dalam memenuhi kebutuhan kaum milenial. Karena mereka juga mayoritas pengguna media sosial, dan kreativitas mereka menumbuhkan bintang-bintang baru dengan follower sangat besar, maka maraklah apa yang dikenal sebagai influencer. Daya pengaruhnya jauh lebih besar dari memasang iklan tv.

Itu reaksi pengusaha dalam menjemput kebutuhan kaum milenial. Lalu dari sisi Pemerintah apa yang dilakukan? Bappenas empat tahun lalu, 22 Mei 2017, meliris Strategi menghadapi bonus demografi 2030-2040 tapi agaknya perlu dimajukan.

trec.pdx.edu

Ada hasil survey yang cukup menarik di Amerika Serikat tentang Komunitas dan Preferensi Transportasi. Diperoleh data bahwa kaum milenial, usia 18 hingga 34, lebih banyak memilih jalan kaki dibanding naik kendaraan, dengan selisih 12%. Mereka juga lebih suka tinggal di tempat yang berdekatan dengan pertokoan dan kafe, yang bisa diakses dengan berjalan kaki. Kaum milenial juga yang terbanyak dalam penggunaan transportasi publik.

Apakah karena survey atau bukan, tapi nyatanya Jakarta, Surabaya, Bandung dan berbagai kota lain juga sudah mulai sibuk menciptakan kondisi kota yang diharapkan oleh kaum milenial.
Trotoar lebar dan jalur sepeda sudah menjadi bagian dari pembangunan, transportasi publik semakin cepat dan nyaman, padahal banyak komponen yang tidak ada dalam anggaran belanja mereka. Jalur sepeda permanen di Jakarta misalnya, menggunakan dana pihak ketiga sebesar 28 Miliar rupiah.

Sudah banyak kota yang mempertimbangkan untuk menyediakan akses ke infrastruktur pesepeda dan pejalan kaki yang mungkin reaksi dari tren global akibat pandemi, bukan karena hasil survey.
Dan kemudian muncul permasalahan baru. Dengan meningkatnya jumlah pesepeda dan pejalan kaki, meningkat pula jumlah korban lalulintas. Kita tentu masih ingat pengemudi yang menabrak sekaligus 9 pejalan kaki dan pengemudi lain yang menabrak 7 pesepeda.
Maka keamanan akses ke infrastruktur pesepeda dan pejalan kaki menjadi vital.

trec.pdx.edu

Di sinilah saatnya Pemerintah Pusat dan para legislator perlu mulai mempertimbangkan penyediaan anggaran serta kebijakan terkait penyediaan infrastruktur.

Jika kecenderungan kaum milenial memilih untuk tinggal di dalam kota dan menggunakan transportasi publik, maka perlu disusun kebijakan bagi para developer untuk menyediakan perumahan dan kawasan belanja yang dilengkapi dengan akses ke infrastruktur pesepeda dan pedestrian yang aman.

Juga bagi jalan raya yang ramai dengan pedestrian, semisal Jalan Sabang di Jakarta atau Malioboro di Jogjakarta, perlu ada landasan untuk menjadikannya sebagai kawasan pedestrian.

Menghadirkan kaum milenial dengan menyediakan infrastrukur yang dibutuhkan akan meningkatkan pendapatan daerah, lapangan kerja, dan ekonomi lokal. Itu alasan yang kiranya cukup untuk perencanaan anggaran pembangunan kawasan kota dengan akses ke infrastruktur pesepeda dan pedestrian, tentunya yang aman dan nyaman. ■