Sudah sampai di rumah…

Sekelompok anak muda yang menamakan diri mereka The Chain Effect, prihatin akan kondisi lalu lintas kota Beirut. Sejak 2014 mereka mencoba membangun kesadaran akan sepeda sebagai alat transportasi, melalui berbagai kegiatan bersepeda, pelatihan, workshop, pameran, diskusi dan mural. Mural?

Ya mural, sebuah cara efektif untuk membangkitkan rasa penasaran. Dia hadir di berbagai titik cukup lama dan mencuri perhatian banyak kalangan. The Chain Effect mengunjungi wilayah-wilayah kemacetan, mengajak komunitas di sekitarnya untuk membuat mural seraya melakukan sosialisasi sepeda sebagai alat transportasi yang memiliki banyak kelebihan. Dan mural bertemakan sepeda pun menghiasi dinding-dinding kota Beirut. Selain itu The Chain Effects yang berlogo rantai sepeda ini juga melakukan aktivitas lain seperti intervensi, advokasi, konsultasi pada proyek-proyek komunitas hingga rancangan tata kota.

Dilakukan pendekatan humoris melalui mural dalam mengajak para pengendara mobil beralih ke sepeda, seperti”
– Kamu sudah sampai di rumah jika mengendarai sepeda
– Macet? Susah Parkir? Ongkos gede? Naik sepeda aja.
– Cepat bagai peluru, diparkir tanpa pusing. Sepeda,
Atau dengan memempelkan foto warga menaiki sepeda sebagai bagian dari mural, menjadikannya sebagai hasil karya warga yang patut dibanggakan.

Beirut mirip Jakarta dalam hal perlakuan terhadap mobil. Dari data yang disampaikan pada forum Velo City, disebut bahwa 83% pergerakan di Beirut Raya dilakukan menggunakan kendaraan pribadi. Macet di mana-mana, menurut perhitungan, jumlah waktu yang terbuang sia-sia di jalanan mencapai 70%.
Fantastis. Berapa banyak kerugian ekonomi karenanya.

Rupanya tidak beda jauh dengan Indonesia, mobil dianggap sebagai prestige, ukuran kesuksesan atau kekayaan.
Dan mobil adalah raja. Boleh parkir di mana saja. Kebijakan dan pengembangan infrastrukturnya berorientasi pada mobil. Jalan layang dan jalan tol menghiasi kota dengan beton-beton dan asap polusi, yang menurut pendapat mereka memutus atau menjauhkan hubungan sosial dan ekonomi antar tetangga dan kawasan dalam kota, sehingga ketimpangan sosial semakin tampak nyata dan melonjak.

Yang membedakan Beirut dengan Jakarta adalah sepeda motor. Jika di Jakarta di semua sudut dan gang dapat dipastikan didominasi sepeda motor, maka di Beirut masih didominasi manusia yang berjalan-jalan dan sedikit sepeda di sana sini. Aktivitas warga berbelanja, berkreasi atau bercengkerama tidak terganggu oleh seliweran sepeda motor yang sering kali berhenti atau melintas tanpa peduli dengan manusia lainnya.

Setiap perjuangan memang tidak mudah dan membutuhkan waktu panjang. Tiga tahun kemudian, 17 April 2017 pemerintah pun akhirnya membangun jalur sepeda pertama di Beirut sekaligus mencanangkan Bike to Work Day yang diperingati setiap tahun. Namun jalur itu seperti gurauan belaka, hanya sepanjang 200 meter, sampai-sampai warganet berkomentar sinis:

Nasibnya tidak jauh berbeda dengan jalur sepeda pertama Jakarta 2011, tidak ada yang mengacuhkan, tetap saja dilallui berbagai kendaraan. Baru kemudian pada Bike to Work Day 2019 Walikota Beirut meluncurkan rancangan 16 km jalur sepeda Beirut. Swiss pun ikut mendukung dangan donasi sebesar $ 10.000. Sayang, pembangunannya hingga kini tersendat, seperti yang dikeluhkan oleh The Chain Effect.
Semoga dapat segera terealisir.