Sendiri bersepeda

Sebagai seorang pesepeda mungkin cukup banyak yang pernah mengalami kesendirian. Sendiri karena merupakan satu-satunya pesepeda di keluarga. Atau mungkin juga satu-satunya pesepeda di lingkungan perumahan juga di lingkup RT, RW bahkan di satu kelurahan.

Merasa sendirian adalah suatu beban tersendiri yang bisa menjadi tantangan, tapi juga menjadi penghalang bagi yang memiliki niat untuk bersepeda.
Ketika kita sedang melakukan aktivitas lain lalu terbersit rasa senang melihat ada pesepeda melintas, siapa pun pesepeda itu, maka kita sudah bisa digolongkan sebagai pendukung sepeda. Dan niat bersepeda perlu direalisasikan, karena ada banyak manfaat yang akan diperoleh.

trbunenews.com

Bagaimana mengatasi kesendirian?
Yang paling mudah adalah melalui pendekatan dengan komunitas pesepeda yang ada di lingkungan terdekat. Tidak perlu berkecil hati jika sepeda yang dimiliki tidak sebagus atau tidak sejelek sepeda para anggota komunitas. Kenali persyaratan komunitas tersebut, apakah berdasarkan jenis sepeda atau jenis kegiatan. Ada yang eksklusif untuk kalangannya sendiri ada juga yang inklusif, siapa saja bisa bergabung jika memenuhi syarat.

Jika beruntung, bisa ditemukan komunitas terdekat yang bertujuan menyebarkan “virus sepeda” –mengajak sebanyak mungkin orang agar tertarik untuk bersepeda, karena persyaratan utamanya hanyalah niat bersepeda.

Jika sudah bergabung, coba tanyakan pada anggota komunitas lain tentang pengalaman masing-masing saat pertama kali bersepeda. Akan kita temukan beberapa teman senasib, yang mengalami kesendirian dalam bersepeda. Dan tentunya akan menjadi motivasi kuat kita untuk tetap terus bersepeda seperti mereka. Karena siapa pun yang mengenali kebikean bersepeda akan tetap bersepeda, bahkan ingin menularkan kebikean yang dialaminya kepada keluarga dan lingkungan.

Bergabung dengan komunitas akan sangat bermanfaat, banyak ilmu yang bisa kita pelajari. Terutama yang paling penting adalah yang berkaitan dengan keamanan bersepeda. Perlu dibiasakan untuk memprioritaskan keamanan baik bagi diri sendiri atau pun bagi orang lain. Selain itu berbagai permasalahan juga akan bisa ditemukan solusinya dalam komunitas, entah itu berkaitan dengan sepeda, atau tidak. Bisa saja ada dokter spesialis jantung, penyalur bahan baku, pemilik toko suku cadang dsb.

Tidak ada di lingkungan terdekat? Maka jadilah pionir di lingkungan kita. Pionir kebikean.
Bermula hanya dari berdua, bertiga, menunjukkan pada lingkungan etika bersepeda yang bike, mempromosikan kebikean, menyampaikan manfaat apa saja yang telah diperoleh. Menceritakan pengalaman sendiri akan lebih mengesankan bagi penyimak. Instagram, tiktok, twitter, wa dll pun akan bermanfaat dalam menebarkan virus sepeda dan memperbanyak anggota komunitas.

Ketahuilah bahwa di berbagai negara, sepeda di era pandemi ini sudah berkembang pesat menjadi sarana lobby. Persis seperti golf di zamannya. Banyak keputusan dan kebijakan terlahir dalam kegiatan bersepeda bersama.
Itu di luar sana, di Indonesia pun mau tidak mau akan mengarah ke sana, karena tanpa ada kesamaan interes kita akan terkucilkan di dunia global. Bersegera bersepeda, atau menjadi pionir di lingkungan akan memberi banyak manfaat. ■