SDGs, Bonus Demografi, dan 5G

Adalah berita yang sangat menggembirakan ketika BAPPENAS menyelenggarakan diskusi publik tentang agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (the 2030 Agenda for Sustainable Development atau SDGs). Pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan hak asasi manusia dan kesetaraan ini untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Prinsip-prinsip universal, integrasi dan inklusif diberlakukan untuk memastikan tidak akan ada seorang pun yang terlewatkan atau “No-one Left Behind”.

Dari 17 tujuan SDGs yang berkaitan langsung dengan kita sebagai gerakan moral menuju kualitas hidup perkotaan yang lebih baik adalah tujuan nomor 11, yaitu Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan. Cara kita membangun dan mengatur wilayah perkotaan telah disepakati untuk diubah guna mengantisipàsi lonjakan urbanisasi. Diperkirakan dua pertiga manusia akan tinggal di daerah perkotaan pada 2030.

Berbagai faktor dalam sistem perkotaan akan menumbuhkan kemiskinan ekstrem di pusat-pusat kota. Akses perumahan dan lapangan kerja menjadi sangat vital, yang berarti juga melibatkan tata kelola tranportasi, ruang hijau, dan pusat-pusat perekonomian. Karenanya telah ditetapkan berbagai target yang perlu dicapai pada 2030, dan kita hanya memiliki waktu satu windu ,antara lain :

  1. Menjamin akses bagi semua terhadap perumahan yang layak, aman, terjangkau, serta menata kawasan kumuh.
  2. Menyediakan akses terhadap sistem transportasi yang aman, terjangkau, mudah diakses dan berkelanjutan untuk semua, khususnya mereka yang berada dalam situasi rentan, perempuan, anak, difabel dan orang tua.
  1. Menyediakan ruang publik dan ruang terbuka hijau yang aman, inklusif dan mudah dijangkau terutama untuk perempuan dan anak, manula dan difabel.
  2. Mendukung hubungan ekonomi, sosial, dan lingkungan antara urban, pinggiran kota, dan perdesaan dengan memperkuat perencanaan pembangunan nasional dan daerah.

Bagaimana kita capai target tersebut dalam sewindu. Infrastruktur utama untuk mencapainya adalah sistem transportasi. Kemudahan akses, terbebas dari kemacetan yang memperlambat dan merugikan semua aktivitas dalam upaya pencapaian target. Kita bisa belajar dari kota-kota lain di dunia dan mengolah dan mengujinya dalam proyek-proyek percontohan.

Paris, Seville, Barcelona, Melbourne, dalam dua tahun sudah berhasil mengurangi kemacetan. Pendekatan yang dilakukan adalah dengan menempatkan segala kebutuhan sehari-hari dalam jangkauan pemukiman.
Paris dengan program 15-minute City, Barcelona dengan program Superblock, atau Melbourne in 20 minute, bisa dijadikan bahan studi.

Kawasan pedestrian dan jaringan jalur sepeda, yang aman dan nyaman, adalah infrastruktur utama pada program-program tersebut. Pertokoan dan berbagai layanan publik betada dalam jangkaun pejalan kaki dan pesepeda. Taman dan parklet masuk dalam sistem kelola air dan pengendalian banjir. Pepohonan dan bunga-bunga di tepi jalan menggantikan fungsi penutup lubang riol. Berbagai studi pun mendapati bahwa kenyamanan itu akan memberi manfaat ekonomi yang tinggi termasuk lapangan kerja.

Kawasan Kebayoran Lama Utara misalnya bisa menjadi percontohan dan studi. Di sana ada stasiun, halte busway, pasar, kantor kelurahan, kantor poliisi, unit pemadam kebakaran, puskesmas, apartemen dengan pusat belanja, sekolah untuk semua level, semua dalam jangkauan 5-10 menit jalan kaki atau bersepeda, itu pun sebagian besar sudah dalam naungan pepohonan rindang.

Dalam artikel Tata Kota Milenial diuraikan perlunya menata kota untuk menampung kecenderungan para milenial dalam memilih tempat tinggal dan aktivitas mereka dalam upaya menangkap besarnya daya belanja mereka. Dan rancangan SDGs perlu mempertimbangkan kecenderungan tersebut mengantisipasi akan perubahan besar-besaran yang akan terjadi akibat bonus demografi dan layanan 5G yang berpengaruh pada gaya hidup dan mobilitas masyarakat..

Bonus demografi akan menuntut penyediaan pemukiman, dan penyediaan lapangan kerja. Keterbatasan ruang menimbulkan kebutuhan terhadap rumah susun, atau flat, atau apartemen, yang semua itu harus terjangkau bagi tenaga kerja muda. Rancangan pemukiman tentu perlu menyertakan akses kebutuhan sehari-hari dan pendidikan yang tidak terlalu jauh. Tanpa mempertimbangkan lonjakan tenaga kerja muda dalam rancangan tata kota tentu di masa depan nanti akan membawa kita kembali pada posisi hari ini.

Food market di Bangkok

Lapangan kerja bagi lonjakan tenaga kerja muda bisa ditumbuhkan dengan menjadikan stasiun sebagai pusat perekonomian lokal, berintegrasi dengan pasar, halte busway, jalur sepeda dan kawasan pedestrian. Lapangan kerja lokal juga bisa dimunculkan dengan mengurangi dominasi mal, menumbuhkan perekonomian lokal melalui pertokoan ritel di pinggir jalan yang dilalui jalur sepeda dan di kawasan pedestrian.

PT Kereta Api perlu memfasilitasi angkutan pasar di jam-jam pasar, menyediakan gerbong sepeda dan penitipan sepeda, serta layaman ekspedisi untuk perdagangan online, semua itu juga akan mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi secara signifikan.

Dengan menerbitkan regulasi baru misalya untuk transportasi logistik mungkin kemacetan jalan tol juga bisa berkurang jika diwajibkan menggunakan kereta. Untuk itu tentu diperlukan investasi pada penyempurnaan jalan dan fasilitas layanan kereta yang tentunya berpengaruh positif pada pertumbuhan lapangan kerja..

5G dan Internet of Things

Layanan 5G pun sudah diambang pintu. Pada 2030 bukan tidak mungkin bahwa gaya hidup masyarakat akan berubah drastis dengan diterapkannya Internet of things (IoT). Teriakan “pakeet!” akan semakin sering menghampiri rumah kita meski kita tidak berbelanja apa pun., Ketika sang kurir menyerahkan beras, kopi, minyak goreng , kita baru sadar bahwa persediaan memang hampir habis dan peralatan-peralatan dapur yang termasuk golongan IoT itu sudah memesan kebutuhan masing-masing sesuai dengan apa yang kita programkan. Pergi belanja tidak lagi diperlukan, dan mobilitas belanja dilakukan oleh petugas ekspedisi. Di sini pentingnya mempersiapkan fasilitas layanan ekspedisi di setiap stasiun dan terminal.

Karenanya kemudahan akses infrastruktur pedestrian dan sepeda dari pemukiman juga perlu dirancang untuk mengantisapasi lonjakan penduduk, lonjakan tenaga kerja dan gaya hidup 5G.