Romantika Sepeda

Mengapa orang Indonesia masa kini, tidak banyak bersepeda seperti orang-orang lain di dunia sana? Jogjakarta dulu terkenal sebagai kota sepeda. Tampaknya sepeda mulai menghilang dari daftar inventaris rumahtangga sejak kehadiran sepeda motor Jepang, menggantikan sepeda motor Jawa, NSU, BMW dan lainnya yang diimpor dari Eropa dan AS. Dan kini banyak hal yang kurang dipahami oleh para pengambil kebijakan, bahwa urusan sepeda bukan hanya sekedar menyangkut masalah kesehatan dan lingkungan saja. Ekonomi sebagai salah satu penggerak roda peradaban adalah motivasi utama sejak kelahiran sepeda lebih dari dua abad lalu.

Pengelola berbagai kota dunia berlomba untuk diakui sebagai kota ramah sepeda, Mengapa? Karena mereka ingin menjadi rumah bagi generasi yang penuh bakat dan inovasi. Penelitian telah menunjukkan bahwa kaum pekerja digital lebih menyukai kota dan kantor dengan infrastruktur bersepeda. Alasannya sederhana: mereka duduk berjam-jam di depan komputer, dan bersepeda adalah multi solusi bagi mereka: aktifitas fisik, menghemat waktu dan murah, Sedangkan manfaat lainnya adalah bonus.

Ada catatan lama yang cukup menarik dari Christine M. Grant, seorang konsultan senior di Collaborative Efficiency, gerakan untuk mengganti bahan bakar fosil, mudah-mudahan bisa membuka mata dan hati:

Saya jatuh cinta pada sepeda. Mudah, aman, nyaman… (#melamun).

Ketika hubungan cinta enam bulan saya berakhir, saya baru menyadari alasan ketergilaan saya: bahwa kota-kota di Denmark dan Belanda memang membuat diri mereka menyenangkan. Mereka tidak hanya membangun jalur sepeda; tetapi juga mengisinya dengan aneka kesenangan, imajinasi, kasih sayang, dan bahkan romantisme, ke dalam aktiivitas bersepeda.

Tentu saja mereka memang menyukai sepeda, tetapi kita juga akan menyukainya jika kita menyimak pelajaran tentang sisi lembut bersepeda ini dari ibu kota transportasi aktif dunia.

Two-wheeled romance. Photo by Shannon Donegan.

Human-powered is romantic.
Hampir setiap hari pulang kerja saya bersepeda bersama pacar saya, yang merupakan salah satu bagian terbaik dari hari-hari saya. Kami bicara tentang apa yang kami lihat di sepanjang jalan atau tentang bau apa yang merebak dari Hostess Cake Factory. Jika cuaca cerah, terkadang kami berhenti untuk minum di salah satu kafe di sepanjang jalan. Di malam musim dingin, kami berhenti dan menonton kapal-kapal yang lewat di bawah Fremont Bridge. Ketika hujan, kami membicarakan tentang sup apa yang ingin dimasak untuk makan malam.

Bersama bersepeda melalui elemen-elemen yang mengikat kita dengan cara yang tidak akan pernah terjadi jika kita terikat dalam penggunaan mobil. Sepanjang perjalanan saya, saya melihat semua jenis romansa di jalur sepeda — remaja berciuman di lampu merah Paris, pasangan tua bergandeng tangan sambil mengayuh di Amsterdam, dan ekskursi sepeda setelah pesta pernikahan di Kopenhagen.

A wedding party in Copenhagen.

Setiap hari rata-rata pekerja AS menghabiskan sekitar 48 menit (kini 55 menit – red) perjalanan setiap hari. Terlepas dari miliaran jam yang kita habiskan secara kolektif, kita jarang membicarakan tentang bagaimana dampak pilihan kita pada jenis transportasi terhadap emosi kita —secara fisik atau mental.

Mungkin kita harus mendiskusikannya.

You don’t have to be a “cyclist” to ride a bike.
Kegiatan bersepeda sudah lama masuk dalam sub-kultur rekreasi di Amerika Utara. Kini mulai berubah, dan merupakan perubahan kultur yang penting. “Tak satu pun dari orang-orang ini menganggap diri mereka sebagai pesepeda,” Andreas Hammershøj dari Danish Cycling Embassy menjelaskan pada saya Juni lalu, saat kami berdiri di trotoar menyaksikan para warga Kopenhagen mengayuh sepeda melintasi jembatan Dronning Louises, sebagaimana yang dilakukan oleh 10.000 hingga 30.000 orang setiap hari.

“Mereka hanyalah orang-orang yang pergi bekerja, sekolah, atau belanja,” kata Hammershøj. Ternyata orang Kopenhagen bepergian dari A ke B dengan sepeda tidak pernah ingin bersepeda sebagai ride a century, bahkan mereka mungkin tidak peduli untuk mengetahui apa itu ride a century (Century ride adalah istilah latihan olahraga atau balap sepeda hingga 100 mil yang populer di AS – red)

Tidak apa-apa. Kita tidak harus mengidentifikasikan diri dengan sisi rekreasi dalam bersepeda untuk transportasi. Tanyakan saja pada Blake Trask, Direktur Kebijakan Seluruh Negara Bagian dari Bicycle Alliance of Washington. “Saya bukan pesepeda. Saya hanya mengendarai sepeda saya untuk bekerja, hampir tiap hari. ”

This Portland kid doesn’t consider herself a “cyclist.”

Remember kickstands?
Henry Cutler, pemilik WorkCycles Belanda-Amerika di Amsterdam, yakin bahwa persepeda urban akan meledak begitu orang Amerika turun dari sepeda berperforma tinggi, dan beralih ke sepeda yang dikendara dengan tegak, nyaman, dan bermanfaat.

“Orang Amerika mengendarai sepeda seperti mobil balap; Sepeda Belanda itu seperti Honda Civic atau mini-van,” canda Cutler Juli lalu ketika saya mengagumi armada sepedanya. Mereka dilengkapi dengan kursi anak, keranjang, bel, pelindung rantai, dan lampu depan – belakang yang digerakkan oleh pedal. Oh, kickstand: mengapa tidak ada lagi standar samping untuk sepeda?

Losing the clip-in pedals and riding on fat tires changes everything about city cycling. The basket is nice, too.

Tom Fuculoro, penulis Seattle Bike Blog, benar ketika dia menulis baru-baru ini bahwa membeli sepeda seharusnya lebih seperti membeli mobil. “Kebanyakan orang tidak tertarik dengan aspek teknis mesin mobil; mobil terjual karena sunroof-nya atau cup-holder.”

David Schmidt, pemilik The Dutch Bike Shop di Seattle, melaporkan bahwa tren penggunaan sepeda semakin meningkat. “Sembilan puluh persen klien kami belum pernah naik sepeda lagi sejak kecil. Mereka mulai kembali menggunakan sepeda karena menyenangkan dan lebih sederhana daripada mengemudi. Bukan geng komuter. Mereka hanyalah orang-orang yang ingin mulai bersepeda ke tempat belanja.”

Outside of the grocery store in Copenhagen.

Does your city have a bike culture?
Orang Amerika Utara semua memahami makna dari “budaya mobil”, tetapi kini istilah itu semakin sering berkonotasi negatif. Mobil sekarang disebut sebagai “teknologi orang generasi tua.” Terlepas dari anggaran pemasaran perusahaan mobil yang bernilai miliaran dolar, banyak generasi milenial lebih suka tidak memiliki mobil.

Lain halnya dengan sepeda, budaya sepeda sangat diminati. Banyak kota yang paling hidup dan berkembang di dunia berusaha keras untuk mendukung warga bersepeda karena memiliki “budaya sepeda” tiba-tiba menjadi aset dan bagian penting dari cara mendapatkan pekerja yang inovatif… attracting the types of workers that an innovation economy wants to attract.

Brian Surratt, direktur pengembangan bisnis di Kantor Pengembangan Ekonomi Kota Seattle, baru-baru ini berbicara tentang pentingnya mengembangkan budaya sepeda karena, seperti yang dia katakan, “demografi adalah takdir. Orang tidak lagi berpindah mendatangi industri. Industri pindah untuk mendatangi para talent. Seattle ingin diakui sebagai kota ramah sepeda karena alasan sederhana, membantu menarik para good talent. Kota-kota yang paling sukses—secara ekonomi, budaya, dan sosial—harus bersaing untuk mendapatkan modal intelektual dan bakat.”

More cyclists equals more compassionate roads.
Sejumlah penelitian mendokumentasikan hubungan antara peningkatan volume pengendara sepeda dan peningkatan keselamatan pengendara sepeda. Hubungan antara kedua faktor ini terkadang sangat linier.

An ad from the Netherlands Safety agency reminding motorists to “drive with your heart.”

Odense, Denmark, misalnya, memulai kampanye bersepeda multi-tahun yang ambisius dan memperoleh tingkat bersepeda hingga 20 persen, sementara kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara sepeda menurun 20 persen. Mengapa? Orang-orang di belakang kemudi menjadi lebih terbiasa melihat orang bersepeda di jalan. Juga, sering kali orangnya sama: pengemudi dan pengendara sepeda adalah orang yang sama pada waktu yang berbeda dalam sehari, atau sekurangnya ada pesepeda dalam keluarga sang pengemudi. Mengemudi “dengan hati” bisa dijual jauh lebih mudah ketika warga—seperti di Groningen, Belanda—memiliki teman dan anggota keluarga yang bepergian dengan sepeda atau berjalan kaki.

Beruntung bagi kita, bersepeda telah meningkat secara dramatis di banyak kota: perjalanan sepeda berlipat ganda di Seattle dan tiga kali lipat di Portland sebagai bagian dari semua perjalanan dari tahun 2000 hingga 2010, menurut League of American Bicyclists. Pertumbuhan ini membantu membuat jalan jauh lebih aman bagi semua orang—bahkan untuk jalan yang tidak memiliki infrastruktur bersepeda.

A person in a car drives carefully on a residential street in Portland.

We don’t have time to compensate.
Orang yang membaca artikel ini umumnya sedang duduk di depan komputer. Semakin hari semakain banyak dari kita yang menjadi “knowledge workers” yang duduk di depan komputer untuk sebagian besar karirnya. Jika kita juga memilih untuk menggunakan bentuk transportasi pasif seperti mengemudi mobil atau naik bus, dokter menyarankan agar mengimbangi gaya hidup kita yang tidak banyak bergerak dengan “berolahraga”.

Sayangnya, saya tidak menemukan banyak waktu dalam jadwal saya untuk mengimbangi—dan saya tidak sendirian. Center for Disease Control melaporkan bahwa 80 persen orang Amerika gagal memenuhi pedoman Federal untuk aktivitas fisik, meski setiap tahun $19 miliar dikeluarkan untuk biaya keanggotaan gym setiap tahun.

Mengapa aktivitas tidak dapat direkayasa ke dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga kita dapat tetap sehat tanpa beban tambahan untuk berolahraga? Bersepeda telah menjadi solusi bagi saya. Saya biasanya membakar sekitar 500 kalori sehari dengan mengayuh sepeda sendiri ke tempat-tempat yang harus saya kunjungi, dan pergi ke gym tidak ada lagi dalam jadwal saya. Dengan mengurangi satu tugas dari jadwal berarti saya memiliki lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama orang-orang yang saya cintai.

Focus on women.
Perempuan adalah “spesies indikator” ekosistem bersepeda di kota. Penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan lebih suka menghindari risiko daripada pria, jadi dengan banyaknya perempuan mengayuh sepeda di kota menunjukkan bahwa bersepeda itu aman di sana.

Mom and daughter running errands in Tokyo.

Perempuan juga jauh lebih memungkinkan untuk berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari program motivasi dan pelatihan bersepeda daripada pria. Sebuah studi yang dilakukan di London menunjukkan bahwa 73 persen penduduk London yang mengikuti program pelatihan bersepeda on-road adalah perempuan. Studi yang sama mewawancarai pengendara sepeda perempuan dan mendapatkan bahwa “bersepeda membantu meningkatkan kepercayaan diri, identitas mandiri” bagi banyak perempuan.

Sebuah penelitian di Australia menunjukkan bahwa acara penjangkauan dan dukungan bersepeda memiliki dampak positif yang lebih besar pada perubahan perilaku di kalangan perempuan daripada di kalangan pria. Apa pentingnya untuk mengajak lebih banyak lagi perempuan bersepeda? Keputusan rumah tangga lebih banyak berada di tangan perempuan Amerika daripada pria, karenanya dapat mempengaruhi seluruh keluarga untuk keluar dari mobil dan naik sepeda. Beberapa orang juga menegaskan bahwa semakian banyak perempuan bersepeda dapat berkontribusi pada lingkungan perkotaan yang lebih menyenangkan, secara visual.

Photo by Mikael Colville-Anderson, used with permission.

Tak satu pun dari gagasan ini yang revolusioner. Saya telah menyaksikannya di seluruh dunia. Terkadang yang penting bukanlah tentang infrastruktur saja. Membuat orang jatuh cinta pada sepeda membutuhkan lebih dari sekadar papan penanda dan cat di jalanan (meski itu pun juga penting!).

Apa yang benar-benar dibutuhkan oleh persepedaan adalah pemasaran yang baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these <abbr title="HyperText Markup Language">html</abbr> tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*