Pemulihan ekonomi membutuhkan sepeda.

Di berbagai kota di dunia jumlah yang berjalan kaki dan bersepeda meningkat ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya selama pandemi COVID-19. Jumlah kilometer yang ditempuh dengan sepeda di Swiss berlipat ganda selama lockdown di sebagian wilayahnya, sementara mesin penghitung di Philadelphia memberi angka peningkatan jumlah pesepeda rata-rata 150%.

Banyak pemerintahan yang mulai mendorong mobilitas baru ini berkembang lebih luas melalui proyek dan pendanaan infrastruktur, seperti Inggris yang mengalokasikan  GBP 2 miliar untuk meningkatkan dan memperluas infrastruktur pejalan kaki dan bersepedanya. Ini kabar baik sebetulnya untuk pemulihan ekonomi sayangnya tidak semua negara melakukannya, termasuk Indonesia.

Infrastruktur bersepeda memberi berbagai manfaat baik untuk lingkungan, sosial, dan ekonomi serta penghematan biaya. Seiring dengan manfaat kesehatan, bersepeda juga merupakan moda transportasi yang bermanfaat di masa pandemi saat ini, karena tetap menjaga jarak fisik, memberi alternatif mobilitas yang aman untuk transportasi kota, dan ikut menjaga agar tingkat polusi udara tetap rendah.

Bersepeda berkontribusi dalam mitigasi emisi gas rumah kaca serta polusi udara dan polusi kebisingan, plus merupakan moda transportasi yang praktis,, hemat biaya dan memberi manfaat ekonomi.
Baru-baru ini sebuah studi terhadap lebih dari 100 kota di Uni Eropa menyimpulkan bahwa investasi pada infrastruktur bersepeda di era pandemi sudah memberi pengembalian investasi yang tinggi, dengan pertumbuhan pesepeda antara 11 hingga 48%. Pertumbuhan seperti itu di seluruh Eropa akan menghasilkan manfaat antara $1 miliar hingga $7 miliar, itu baru di sektor kesehatan saja.

Pemerintah di seluruh dunia berjuang keras untuk merespons dan memulihkan diri dari krisis kesehatan dan ekonomi saat ini. Investasi dalam infrastruktur bersepeda merupakan peluang untuk menciptakan lapangan kerja dan dengan tersedianya infrastruktur yang baik penggunaan sepeda akan meningkat. Para pesepeda itu memberi banyak peluang kerja, baik di sektor ritel, manufaktur, pariwisata, mau pun jasa, di mana kesemua itu terpukul keras oleh pandemi. Hanya dari sektor wisata bersepeda saja dapat tercipta aneka lapangan kerja yang umumnya tidak membutuhkan kualifikasi tinggi.

Dengan meningkatnya kegiatan bersepeda, wilayah yang sebelumnya tidak dikenal karena tidak memiliki akses akan memiliki peluang dalam peningkatan nilai properti serta kenaikan pendapatan ritel, yang ujungnya mendorong pemulihan ekonomi dari krisis dan membantu mengembangkan masyarakat yang aktif, adil, dan sehat.

Pemerintahan kota di berbagai negara bersepakat untuk melaksanakan pemulihan kota yang hijau dan adil, menerima peran penting dalam membangun kembali dengan lebih baik seusai krisis. Memperbaiki kondisi untuk mobilitas aktif merupakan unsur penting yang perlu segera dilaksanakan meski kondisi awal untuk bersepeda berbeda di setiap komunitas dan wilayah. Infrastruktur dan peraturan yang ada bisa menguntungkan atau menghambat.
Namun Milano bisa melampauinya hanya dengan kemauan politik.

Milano termasuk kota pertama (di samping Paris dan Bogota) yang meluncurkan proram pemulihan, Milano 2020. Adaptation Strategy, sebuah program perluasan jalan kaki dan bersepeda serta pembatasan kecepatan 30 km/jam untuk kendaraan bermotor, di saat pemerintah Italia dan negara-negara lain  masih mempertimbangkan langkah-langkah pemulihan. Sambil melaksanakan programnya, Milano meminta pemerintah Italia untuk segera menyusun undang-undangnya.

Janette Sadik-Khan dari Bloomberg Associates yang membantu dalam perancangan menyatakan “Milano memberi pelajaran kelas master pada dunia dalam memanfaatkan momen sulit ini,” kata Sadik-Khan melalui email. “Kami tidak hanya ingin kota kembali normal, tapi kami ingin kota menjadi lebih tangguh, lebih adil, dan dalam ekonomi lebih terkoneksi.”

Anna Germotta, seorang pengacara lingkungan hidup di Milano beranggapan bahwa mengubah kota sekarang ini merupakan kesempatan langka yang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun, “Pandemi coronavirus adalah momen di mana setiap pembuat kebijakan bisa mengubah kota.  Kegagalan untuk memiliki keberanian untuk mengubah sekarang —dalam situasi di mana anda memiliki waktu untuk mempersiapkan masyarakat, bisa menjadi bencana.”[]