Mobil Listrik Bukan Solusi

Mengganti semua mobil berbahan bakar fosil yang ada di dunia perlu 15-20 tahun. ini waktu yang terlalu lama untuk bisa mengatasi ancaman krisis iklim, juga polusi yang jadi salah satu penyebabnya.

Sebuah riset yang hasilnya diterbitkan di “transportation research part d” bulan ini menegaskan waktu yang tersedia untuk secara leluasa membuat perbedaan yang diperlukan hanya lima tahun.

Untuk mengatasi ancaman krisis iklim dan polusi perlu upaya membatasi sarana transportasi berbahan bakar fosil selekas mungkin. berfokus hanya kepada mobil listrik hanya akan memperlambat kecepatan dalam lomba menuju emisi nol.

Kenapa? Sebab mobil listrik tak sebenar-benarnya berkemampuan nol emisi karbon. penambangan material untuk baterei, pembuatan mobilnya, dan pengoperasian pembangkit listrik yang diandalkan sebagai tenaga tetap menghasilkan emisi karbon.

Dan fakta lain: transportasi merupakan sektor yang sangat menghasilkan emisi karbon. selain dari karena bahan bakarnya, emisi juga bersumber dari prasarana yang memang intensif-karbon—jalan, bandara, kendaraannya. semuanya menopang gaya hidup yang bergantung pada mobil.

Satu-satunya cara yang relatif bisa cepat mengurangi emisi karbon di sektor transportasi adalah menukar mobil dengan sepeda, sepeda listrik, dan jalan kaki. ini semua yang disebut mobilitas aktif.

Mobilitas aktif itu murah, lebih sehat, lebih baik bagi lingkungan, dan lebih cepat di jalanan yang macet. berapa besar emisi karbon yang bisa dicegah?

Penelitian terhadap 4.000 orang di empat kota selama rentang waktu dua tahun menunjukkan, di antaranya, mereka yang setiap hari bersepeda menghasilkan emisi karbon 84 persen lebih rendah.

Secara rata-rata, mereka yang sekadar mengganti satu hari dari trip mingguannya dengan bersepeda pun bisa memangkas jejak karbonnya 3,2 kg. angka ini setara dengan emisi yang dihasilkan dari berkendara 10 km dengan mobil.

Riset tersebut menyimpulkan, untuk mencapai kondisi emisi nol bersih, sepeda 10 kali lebih penting ketimbang mobil listrik.