Mengkaji Jalur Sepeda Permanen

Disebut bahwa Pemprov DKI akan menyelesaikan 11,2 km jalur sepeda permanen pada bulan Mei 2021 dengan total anggaran Rp. 33 miliar. Kasubdit Penegakan Hukum Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya AKBP Fahri Siregar, mengatakan ada dua pertanyaan yang berusaha dijawab dalam proses pengkajian yang telah dimulai sejak pekan pertama bulan Maret 2021. “Hasil kajiannya nanti akan kami share kepada teman-teman (wartawan),” kata dia. :

  1. “Seberapa banyak orang yang menggunakan jalur sepeda ini untuk bike to work, misalnya” dan
  2. “Apakah jalur sepeda ini bisa, misalkan, membantu masyarakat untuk memudahkan mobilitas khususnya pesepeda atau bahkan malah memacetkan”

Untuk pertanyaan pertama saya kira kajian tidak akan mampu menjawab, sebagaimana mengkaji seberapa banyak mobil yang akan menggunakan jalan tol. Dalam kajian mungkin hanya 100 ribu kendaraan per hari, namun ternyata secara bertahap meningkat dari 100 ribu terus hingga 500 ribu dan takkan berkurang meski macet di sana sini.

Logikanya sederhana: tidak akan ada pengguna selama infrastrukturnya tidak ada.

Pertanyaan kedua tergantung pada infrastruktur tersebut, apakah aman dan nyaman untuk pesepeda, seaman dan senyaman yang dinikmati pengguna kendaraan lain. Faktor penting berikutnya, apakah infrastruktur yang dibangun ditujukan untuk mengganti pergerakan warga sehari-hari atau hanya sekedar membuktikan bahwa kita punya jalur sepeda bagus.

Jika tujuannya untuk medorong pengemudi mobil beralih ke sepeda, maka jelas akan membantu mengurangi kemacetan Dari sisi ruang saja, yang diambil oleh mobil lalu tergantikan oleh sepeda, sudah memberi dampak positif. Belum lagi pergerakan di jalur sepeda permanen akan jauh lebih cepat dibanding mobil.

Sekali lagi, jika tujuan mengembangkan jalur sepeda itu untuk mendorong pemobil atau pemotor menjadi pesepeda, maka pertanyaannya: “bagi seorang pemotor atau pemobil –yang terbiasa dengan mudah menjangkau ke berbagai tempat yang dibutuhkan dalam keseharian mereka– hal apa yang akan mendorong mereka mau beralih ke sepeda?”

Itu yang lebih perlu dikaji, ditambah rancangan berbagai insentif baik dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi/Kota, juga dari pebisnis. Untuk pengusaha egois bisa gunakan rumus ini: doronglah para karyawan menggunakan sepeda, agar kalian tidak perlu bermacet-macet lagi. Penghematan besar dalam tunjangan BBM…..