Mengayuh Malam dari Goa Batu

Rostam Hassan dan kesepuluh temannya pada jam 22:00 sudah berkumpul di Batu Caves, Selangor. Mereka sekali lagi memeriksa perlengkapan keselamatan seperti helm dan perlengkapan pelindung lutut yang disepakati wajib dikenakan.

Batu Caves, sebuah goa kompleks candi Hindu yang indah, salah satu destinasi wisata di Selangor, Malaysia, merupakan titik tengah bagi Rostam dan kawan-kawan yang tinggal di sekitar Gombak, Selayang dan Kepong. Mereka jadikan Batu Caves sebagai titik awal bersepeda menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC), tempat di mana Menara Kembar Petronas berada.

Ketika sebagian warga sedang terbuai mimpi, Kumpulan Pipit Cycling –-demikian mereka menamakan kelompoknya– mengayuh di kegelapan malam. Embun dan keringat menyatu dalam satu misi: menembus malam menuju KLCC.

excellenttourstravel.com/batu-caves/

Rostam dan kawan-kawan memilih jalur melewati Sentul, lalu ke Danau Titiwangsa, dan kemudian menuju ke KLCC. Menurut Rostam jalur ini tidak terlalu ramai, mereka menghindari jalan utama yang biasa digunakan kendaraan lain.

Sebagian besar anggota juga baru mengenal dunia bersepeda. “Ia jadi antara alasan kukuh kami sepakat menggunakan jalan dalam,” ujar Rostam yang sudah lebih dari enam tahun bersepeda.

Perjalanan terhenti sesaat ketika ban sepeda salah satu anggotanya bocor, kemungkinan akibat tertusuk batu. Selama hampir setengah jam, misi terhenti oleh proses penggantian ban.

“Pengalaman pertama kali menjejak kaki ke KLCC, pada waktu malam rasanya sangat menakjubkan. Ia pengalaman paling indah dan mesti dicuba. Apalagi kalau kita mengaku kita main basikal,” kata Rostam saat ditanya mengenai pilihan lokasi tujuan bersepedanya.

Menurut Rostam Kuala Lumpur menjadi salah satu lokasi yang wajib dikunjungi para pecinta sepeda. Rutenya landai dan tidak terlalu banyak tanjakan. Kuala Lumpur merupakan tantangan pertama yang harus dilalui oleh para pecinta bersepeda yang menginginkan pengalaman bersepeda di malam hari, sebelum bisa melanjutkan ke lokasi lain yang lebih jauh dan lebih menantang seperti Putrajaya atau Cyberjaya.

Meskipun tubuh bermandi keringat, dengan napas terengah-engah mereka tampak terpuaskan begitu melihat cahaya Menara Kembar. Sekitar satu jam dihabiskan untuk menikmati keindahan KLCC dan berfoto bersama mengabadikan kegembiraan malam ini. Pencapaian yang sangat membanggakan. Ketika ditanya soal kepuasan, jawabannya sulit diterjemahkan dengan kata.

www.utusan.com.my

Rasa, warna, dan aroma malam menyatu dalam kepuasan. Perjalanan pulang Kumpulan Pipit Cycling sarat dengan kegembiraan dan semangat. Semangat untuk terus mengeksplorasi keindahan negeri mereka.

Bersepeda berkelompok kini dilarang karena situasi pandemi yang semakin membahayakan. Kisah di atas berlangsung pada Agustus tahun 2020, dimuat oleh situs Utusan Malaysia. Kuala Lumpur mempunyai jalur sepeda pertamanya pada tahun 2015, sepanjang 5,5 km. (https://www.astroawani.com/berita-malaysia/laluan-khas-basikal-pertama-di-ibu-kota-kini-dibuka-57845) yang memiliki kisah heroik tersendiri.