Ketika PPKM usai…

Bagaikan sebuah luka, pandemi yang melanda dunia akan meninggalkan bekas yang sulit dihilangkan. Sekurangnya dalam hal mobilitas. Pergerakan orang terbatas, andaikan bergerak pun harus menjaga jarak secara fisik. Pergerakan kendaraan pribadi jauh menurun, jalanan kosong, bus kosong, kereta kosong. Dan kita pun belajar untuk bekerja dan sekolah di rumah dan dari rumah.

Ketika pembatasan mobilitas nanti usai kemungkinan besar kita akan tetap menerapkan physical distancing dan pemakaian masker, sebagian kantor dan perusahaan mungkin akan melanjutkan sistem working from home, namun sebagian besar akan tetap membutuhkan kehadiran pekerja. Dan masalah baru pun akan merebak.

Angkutan umum tidak lagi bisa mengantarkan para komuter sesuai kapasitas penumpangnya, maka jumlah yang tidak terangkut akan jauh lebih banyak dibanding masa sebelum pandemi. Ini akan  memaksa orang untuk menggunakan motor dan mobil pribadi. Kemacetan pun akan jauh lebih parah dibanding sebelumnya, berjuta orang semakin banyak kehilangan waktu di jalan dengan dampak buruknya secara psikologis, ketepatan waktu, dan produktivitas.

Banyak kota di dunia sudah bersiaga untuk mengatasi masalah itu. Ketika jalanan kosong dalam sekejap puluhan kilomenter jalur sepeda bermunculan, yang disebut sebagai pop-up bike lanes, dibuat hanya dengan mengecat atau dibatasi dengan kerucut oranye di atas jalan yang sudah ada. Umumnya kota-kota tersebut, seperti Paris, Milano, Bogota, memang jauh sebelumnya sudah memiliki program jalur sepeda, namun bertahun-tahun terhalang oleh birokrasi yang condong kepada lobby industri otomotif.

“Kami sudah mencoba membangun jalur sepeda sebelumnya, tapi diprotes para pengemudi mobil,” kata Pierfrancesco Maran, wakil walikota Milano. “Ada yang berkata kepada saya: ‘Anda membutuhkan coronavirus untuk membangunnya!'” Di Milano diproduksi mobil Alfa Romeo, dan warga Italia memang pecinta otomotif.

Pembuatan jalur sepeda pop-up diikuti oleh banyak kota lain di dunia, jalur sepeda darurat itu tidak membutuhkan biaya besar dan dalam semalam bisa selesai.

Bogota, sudah menambah 117 km jalur sepeda. Walikota London, Sadiq Khan, menyatakan bahwa bersepeda adalah solusi untuk masalah jarak fisik di transportasi umum di masa mendatang. Kota-kota lain juga melihatnya sebagai cara untuk membangun lebih baik dan mengurangi polusi dan kemacetan. New York sedang membangun 400 km jalur sepeda terproteksi dan mendesain ulang persimpangan jalan agar lebih aman bagi pesepeda dan pejalan kaki. Milano membangun 35km jalur sepeda baru dan 25 km pedestrian yang ramah sepeda.

Paris memperluas jaringan jalur sepeda hingga ke pinggiran kota; Idenya adalah agar para komuter  menggunakan sepeda daripada kereta api untuk memelihara jarak fisik sekaligus melakukan aktivitas fisik dalam prosesnya. Mumbai telah menunjuk 24 advokasi bersepeda – satu untuk setiap distrik – demi mendorong lebih banyak orang bersepeda ke tempat kerja. Mumbai berharap akan ada 100.000 lebih pesepeda pada tahun 2023. Buenos Aires lebih ambisius, menetapkan target 1 juta perjalanan sepeda per hari pada tahun 2023, dan jalur sepeda terproteksi diperluas hinga ke pusat kota.

Namun tetap masih lebih banyak kota besar tidak membangun jalur sepeda. Jill Warren dari European Cycling Federation mengatakan: “Dibutuhkan kemauan politik, investasi, dan aktivisme warga.”

Jaringan jalur sepeda dikembangkan untuk memberi warga alternatif tambahan untuk bepergian. Mereka yang tidak ingin kehilangan waktu menunggu giliran di angkutan umum, atau tidak mau berlama-lama terjebak kemacetan, bisa memilih untuk bersepeda. Sesungguhnya sepeda adalah alat transportasi tercepat untuk mobilitas dalam kota di bawah 8 km.

Untuk mendorong para komuter menggunakan sepeda dibutuhkan jalur sepeda yang lebih aman, juga diperlukan lingkungan ramah sepeda, seperti tempat parkir atau penyimpanan sepeda yang aman, ruang ganti, kamar mandi, dan berbagai kebijakan khusus atau insentif bagi mereka yang mau bersepeda ke tempat kerja setiap hari. []