Jalur Sepeda di Khatulistiwa

Entah media yang lebih peduli pada kegaduhan, atau memang kita miskin inovasi, kabar perkembangan teknologi panel surya jarang tersiar seakan tidak dibutuhkan. Negeri kita bermandikan cahaya matahari hampir sepanjang tahun. Seringkali kita mengeluh kepanasan, mencari kesejukan di bawah pohon atau masuk ke mal. Sumber energi yang dihindari

Di negeri sepeda di mana matahari tidak pernah berada di atas kepala —beredar antara 35-40 derajad di atas horison, dan hanya terlihat selama 9 bulan, itu pun hanya 5 hingga 7 jam per hari jika cuaca cerah— konsep jalur sepeda surya diujicoba pertamakali.

Kantor berita AP pada Juli kemarin mengabarkan Belanda telah meresmikan jalur sepeda surya terpanjang di dunia: 330 meter saja. Di bangun di desa Maartensdijk, dekat kota Utrecht, jalur sepeda itu terbuat dari beton dengan lapisan transparan melindungi panel surya yang ditanam di dalam beton.

Credit: Solaroad

Arne Schaddelee, pejabat setempat, menyatakan betapa pentingnya pilot project itu: “Ini sangat inovatif. Kita kekurangan ruang, jika kita bisa memanfaatkan jalanan untuk menghasilkan energi, maka kita memperoleh manfaat ganda. Jika ini berhasil maka tidak akan ada lagi ladang panel surya di area pertanian.”

“Sangat baik bagi lingkungan, dan saya lebih suka solar panel berada di jalur sepeda daripada di lapangan,” kata anak muda pertama yang bersepeda di jalur sepeda solar itu. Konstruksinya dimulai musim panas 2020 lalu menyusul proyek serupa di desa lain sepanjang 25 meter pada awal 2020.

Sebenarnya jalur sepeda solar di Belanda sudah pernah dibangun. Solaroad nama programnya, untuk pertama kali dibangun sepanjang 72 meter pada 2014 di Krommenie, dekat kota Haarlem. Jalur solaroad itu bisa menghasilkan 70kWh per meter persegi per tahun. Setahun kemudian dirilis pernyataan bahwa jalur itu total telah menghasilkan 9800 kWh.

Namun di tahun-tahun berikutnya lapisan pelindung sering mengalami kerusakan dan akhirnya pada November 2020 dibongkar, diganti dengan aspal.

Prancis mengikuti jejak Belanda, bukan untuk jalur sepeda, melainkan untuk jalan tol kendaraan bermotor, dengan proyek jalan surya bernama Wattway, dibangun sepanjang 1 km pada 2016 yang pada 2019 dianggap gagal karena mengalami kerusakan berat.

Getty Image

Di negeri Cina juga dibangun 2 km jalan surya pada 2016 di kota Jinan dengan potensi 1 GWh per tahun, mulai beroperasi pada Desember 2017, Ternyata listrik yang dihasilkan hanya cukup untuk kebutuhan listrik operasional jalan tol tersebut, dari lampu hingga CCTV. Kini hanya 1 km lebih sedikit yang masih beroperasi.

AS baru mulai mencoba pada Desember lalu, menggunakan teknologi Wattway-nya Prancis, di kota Peachtree Corners, Georgia dengan target 1.300 kWh setiap tahun, cukup untuk mengisi daya batere mobil listrik mereka.

Credit: Curiosity Lab

Sebelum ditemukannya teknologi pelapis transparan yang cukup kuat menahan beban berton-ton, kiranya jalan surya untuk kendaraan bermotor tidak akan pernah efisien. Panel surya akan sering tertutup kendaran, belum lagi dibutuhkan posisi matahari yang tegak lurus dengan panel surya agar menyerap sinar dengan optimal.

Berbeda dengan jalur sepeda surya, bebannya sangat ringan, apalagi di negeri khatulistiwa bayang-bayang tidak sepanjang di negeri-negeri dengan empat musim, tambah lagi sepanjang tahun bermandikan sinar matahari 4-10 jam setiap hari. Tentu jalur sepeda surya di Indonesia akan bisa menghasilkan listrik berlipat ganda dibanding yang telah diperhitungkan di sana.
Yuk, kapan kita mulai berani bermimpi, merancang, mengujicoba?