Floating bus stop

Floating Bus Stop. Halte bus melayang atau mengambang?
Itu memang yang akan terbayang ketika membacanya, tapi ternyata bukan.
Floating bus stop adalah halte bus di median badan jalan yang terpisah dari trotoar oleh jalur sepeda. Mungkin istilah itu muncul karena dalam penerapannya hanya memindahkan posisi halte dari posisi sebelumnya yang menyatu dengan trotoar.

https://twitter.com/CyclingEmbassy/status/908255946966814722

Ini dipraktekkan di beberapa negara sepeda di Eropa seperti Skandinavia dan Belanda. Keberadaan teluk bus di jalan raya diubah guna menghindari persilangan antara pesepeda dan bus yang berpotensi menimbulkan konflik ketika bus memasuki teluk atau ketika pesepeda berusaha menyalip bus dalam teluk. Ketika memasuki teluk, bus akan mengalami kelambatan jika harus menunggu para pesepeda berlalu yang tentunya akan menimbulkan efek berantai dalam mempertahankan konsistensi jadwal.

Pada gambar di atas terlihat bagaimana halte bus “melayang” dari posisinya. Desain di kiri adalah desain jalur sepeda jika berada di badan jalan yang memiliki teluk bus. Di kanan, jalan yang sama tetapi jalur sepeda dimasukkan ke teluk dan halte dipindahkan merapat ke badan jalan. Dengan sistem floating bus stop ini, maka bus akan tetap berada pada lajurnya, tidak perlu berbelok, dan pesepeda akan terlindungi oleh halte. Sangat membantu pengemudi bus dan pengendara sepeda.
Kekurangan dari desain ini adalah pejalan kaki harus menyeberangi jalur sepeda untuk mencapainya sehingga berpotensi konflik. Hal tersebut bisa diatasi dengan asesoris perlambatan jalur, seperti tanda peringatan dan zebra-cross yang tampil menyolok.

Berbagai kota di Amerika juga sudah mulai menerapkan desain Eropa yang memang terbukti efektif bagi keselematan semua orang ini. Seperti desain untuk persimpangan Groveland di Minneapolis (gambar atas) dan pengaplikasiannya di kota Seattle (gambar bawah).