Cak Nun: Sepeda, puncak peradaban…

Agar menjadi ’ngepit’, bukan ‘pit-pitan’
.
Di antara jeda musik yang dibawakan kelompok Kiai Kanjeng, Emha Ainun Nadjib pada sabtu, 5 Juni lalu, berbicara tentang sepeda.

Ya, sepeda, yang hari-hari ini menimbulkan kegaduhan di sebagian kalangan tersebab oleh sebagian pengguna sepeda balap. Cak/Mbah Nun (begitu panggilan akrabnya) menegaskan betapa sepeda merupakan “puncak industri peradaban manusia, di mana manusia masih menjadi faktor utama, yakni [berkaitan dengan kesehatannya]”.

https://www.instagram.com/tv/CPvh33TpYYk/?utm_medium=copy_link

Selain itu, dia juga menarik garis pembeda antara “pit-pitan” (sepedaan) dan “ngepit” (bersepeda). “Ngepit” adalah kegiatan yang pola pikirnya, prinsip utamanya, adalah bersepeda ke suatu tempat dengan menggunakan sepeda. adapun “pit-pitan” adalah dolan ke suatu tempat, lalu pulang lagi; sepeda bisa dikendarai dari lokasi asal, bisa pula diangkut di tujuan dan baru digunakan di sana.

Barangkali kebetulan, atau bisa jadi juga Cak Nun telah dengan tepat membaca alam pikiran B2W Indonesia. tapi, apa pun, perkataannya sanggup merasuk di dalam ingatan orang-orang yang pada sabtu malam itu hadir. Cak Nun telah dengan tepat menegaskan, dan menjadikan isu yang diperjuangkan B2W Indonesia dalam sorotan:

bahwa sudah sejak awal keberadaannya sepeda sesungguhnya bukan semata-mata alat untuk dolan, rekreasi, atau berolahraga; ia adalah sarana transportasi, alat untuk bermobilitas.

Dan lebih dari itu, seperti dikemukakan Cak Nun: ia memanusiakan manusia.

Apa yang disampaikan Cak Nun bisa dibilang menjadi pukulan tambur yang menyemangat B2W Indonesiai , khususnya wakil-wakil dari sebagian koordinator wilayah di seluruh Indonesia yang hari itu hadir. Mereka meluangkan waktu di antara kesibukan sehari-hari masing-masing untuk ikut mengkonsolidasikan diri, bersama-sama, serta membahas isu-isu mutakhir yang bersangkut paut dengan dunia sepeda, lingkungan, dan transportasi dalam acara gathering nasional berjudul “Kumpul Obrolan Lintas Pegiat Sepeda Indonesia (KOALISI)”.

Berlangsung dua hari di kawasan desa Tembi, sebuah desa wisata yang asri dan terasa jauh dari ingar-bingar suasana perkotaan di Bantul, Yogyakarta, acara itu berlangsung dalam suasana paseduluran, hangat, dan penuh semangat. Peserta, yang berdatangan sejak sehari sebelum acara dibuka, mengikuti sesi-sesi diskusi kelompok dengan antusiasme sebagaimana ketika anak-anak dijanjikan akan dibelikan mainan impiannya.

Diskusi-diskusi itu dibagi ke dalam empat kelompok, masing-masing berfokus kepada isu-isu advokasi, kampanye, edukasi, dan sosial serta inklusi—yang hingga kini merupakan pilar kegiatan B2W Indonesia.

Sebelum diskusi kelompok berlangsung, peserta berkumpul di pendapa di lokasi acara berlangsung–sekaligus tempat menginap peserta–untuk menyimak pemaparan beberapa pembicara. Substansi dalam pemaparan yang setiap temanya telah diseleksi berdasarkan isu-isu mutakhir yang berkaitan dengan sepeda, dan secara umum relevan dengan tema “budaya kembali bersepeda untuk kehidupan berkelanjutan”, ini dirancang sebagai bekal bagi peserta untuk dibawa ke forum diskusi.

Secara umum pertukaran pendapat yang berlangsung di kelompok-kelompok berlangsung guyub dan hidup. Meski demikian, seperti diakui om Rudi Klowor, yang mewakili Robek (Robongan Bekasi) dan mengikuti kelompok edukasi, “Waktunya Terbatas”. Di kelompok ini topik menonjol yang ramai mengundang pendapat peserta (delapan orang dari 15 yang terdaftar) adalah sasaran kegiatan edukasi—pembicara dalam forum memaparkan hasil survei di kalangan mahasiswa UGM, tapi sebagian besar peserta, termasuk Rudi Klowor, memandang lebih penting edukasi untuk usia dini, mulai dari sekolah dasar.

Dari diskusi-diskusi itulah lalu didapat penajaman strategi dan fokus kegiatan untuk merespons perkembangan mutakhir. dan lebih penting dari itu: dari kelompok-kelompok ini pula dijaring sejumlah poin yang dibubuhkan dalam naskah deklarasi, yang dibacakan di akhir pertemuan.

Ketika peserta mulai beranjak meninggalkan tempat pertemuan, setelah rampung mengepak bawaan masing-masing, tak ada orang lain yang tampak sama semringahnya dengan om Poetoet Soedarjanto, ketua B2W Iindonesia. hari itu, menurut dia, melengkapi hari-hari belakangan yang, meski terasa ada ketegangan akibat adanya pro-kontra penggunaan sepeda jenis yang biasa digunakan untuk berkendara kencang di jalan raya, justru memberi kesempatan lebih banyak kepada publik untuk menyimak misi dan posisi B2W Indonesia. “ini menggembirakan,” katanya.

Rencananya, naskah deklarasi tersebut bakal diteruskan ke pembuat kebijakan di Indonesia. Yang diharapkan adalah poin-poin di dalamnya ditindaklanjuti demi kebaikan (“ke-bike-an”) yang berkaitan dengan penggunaan sepeda sebagai sarana bermobilitas, untuk “ngepit”; juga tentu saja kebaikan kota-kota di indonesia. ~ [ Purwanto Setiadi].