Berbagi ruang di jalan raya.

Ketika jalur sepeda permanen di DKI Jakarta diresmikan, banyak yang tidak memahami manfaatnya, bahkan ada wakil rakyat yang mengritik keras.

Barangkali –untuk kesekian kalinya– perlu disosialisasikan kembali manfaat sepeda sebagai pilihan moda transportasi, serta resiko yang dihadapi pesepeda di jalan raya. Kita tengok dari satu sisi saja: ruang yang diberikan kepada mobil.

Sebagian bus gandeng TransJakarta mempunyai kapasitas 120 hingga 140 penumpang. Jika satu mobil berisi 3 orang, maka 40an mobil akan berkurang di jalan raya. Dalam gambar, tambahan satu bus gandeng setara dengan membebaskan empat lajur jalan raya.

Jika satu lajur dijadikan jalur sepeda permanen, maka lajur lainnya akan terbebaskan, dengan asumsi satu mobil setara dengan 3-4 sepeda. Ketika mobil-mobil masih antre berjam-jam, sepeda bisa melaluinya hanya dalam sekejap, ruang yang digunakan tidak banyak baik secara fisik juga dalam waktu. Sedangkan ruang yang digunakan mobil, selain lebih banyak, juga lebih lama, bahkan ketika diparkir di jalan. .

Sebagian berargumen bahwa mobil membayar pajak lebih besar, jadi berhak mendapat ruang yang lebih besar. Tidak tepat juga. Polusi yang diakibatkan, menyebabkan subsidi kesehatan membengkak. Kemacetan yang ditimbulkan, menyebabkan kerugian negara puluhan triliun per tahun. Lalu biaya 1 kilometer jalan tol setara dengan biaya 100 km jalur sepeda, sedangkan sepeda tidak menimblkan polusi atau pun kemacetan. Jalan tol merusak fungsi sebuah kota, memotong silaturahim antar wilayah, dan dunia tidak lagi membangun jalan tol baru di dalam kota.

Jika melihat pesepeda, pejalan kaki, atau pengguna transportasi publik, ketahuilah bahwa sebagian mereka memang sengaja meninggalkan mobilnya di rumah, dengan alasan yang berbeda. Mungkin karena mogok, bisa juga karena kesadaran untuk mengurangi emisi beracun dan kemacetan.