Berbagi jalan

Visi dan misi B2W Indonesia adalah terciptanya kualitas hidup yang lebih baik dengan meningkatkan pengguna sepeda untuk aktivitas sehari-hari. Maka ketika serombongan pesepeda menguasai jalan raya sehingga pengguna jalan raya lain terganggu dan terdorong memberi gestur kegusaran, tentu sangat memprihatinkan, sangat jauh dari visi dan misi yang diemban B2W yang secara berdampingan, berkolaborasi, menciptakan kualitas hidup kota yang lebih baik.

Bisa dikatakan bahwa kejadian tersebut merupakan akumulasi dari berbagai perilaku sebagian pesepeda belakangan ini yang tidak menghormati peraturan dan mengganggu para pengguna jalan lain. Ini membuat perjuangan dan kerja keras B2W Indonesia selama 16 tahun ini bagai terkena tamparan keras. Bertahun-tahun B2W bersama berbagai institusi dan berbagai komunitas mengampanyekan banyaknya manfaat bersepeda, dari sisi kesehatan, sosial dan ekonomi baik bagi pribadi mau pun bagi perkotaan. Dan tiba-tiba di tengah perjuangan untuk meredakan kontroversi jalur sepeda permanen, serombongan pesepeda seakan ramai-ramai berteriak: kami tidak butuh jalur sepeda.

Setiap kayuhan selama bertahun-tahun ini adalah perjuangan, kadang ditanggapi dengan cibiran dan cemooh, tidak jarang pula dihadiahi senyuman dan jempol like. Ketika 10 tahun lalu jalur sepeda pertama di Jakarta diresmikan oleh Gubernur Fauzi Bowo, semangat perjuangan tidaklah berhenti.
Kemacetan parah di jalan-jalan Jakarta bagaikan pembakar semangat, bahwa perjuangan masih jauh dari keberhasilan. Berbagai upaya baik on line mau pun off line, berkolaborasi dengan berbagai pihak, dilakukan terus menerus agar masyarakat menyadari bahwa bersepeda akan memberi dampak kualitas hidup yang lebih baik. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor akan membantu mencapai kualitas hidup yang lebih baik.

Pandemi ternyata menimbulkan tren global baru dalam bersepeda, bahkan beberapa kota dunia melakukan revolusi tata kota untuk menjadi kota sepeda. Ini hal yang menggembirakan. Jumlah pesepeda meningkat tajam, meski banyak yang hanya mengikuti tren, namun tidak sedikit pula yang menemukan kenyamanan dan kenikmatan sebagai commuter sepeda beserta manfaatnya bagi kualitas hidup.

Di antara kegembiraan itu ada juga keprihatinan. Adalah sebagian mereka yang bersepeda hanya karena mengikuti tren yang kurang memiliki pemahaman bahwa bersepeda di kota yang diutamakan bukanlah rekreasi atau olahraga, melainkan mobilitas yang aman dan nyaman, tidak hanya bagi pesepeda tapi juga bagi seluruh pengguna jalan.

Mereka perlu didorong untuk belajar bagaimana bersepeda di jalan raya agar tidak melanggar peraturan, tidak mengganggu sesama pengguna jalan, selalu mengutamakan keselamatan, memahami tanda dan rambu dan sebagainya. B2W akan memberi perhatian lebih dalam sosialisasinya dengan harapan tidak ada lagi pesepeda yang mengabaikan peraturan dan mengabaikan sesama pengguna jalan.

Sangatkah ironis, ketika ada yang berteriak “share the road” tetapi merampas hak jalan pengguna lain, sehingga justru pengguna jalan lainnya yang lebih pantas berteriak “share the road“.
Kampanye “share the road” dari PBB dimaksudkan infrastruktur yang semula hanya diprioritaskan bagi kendaraan bermotor –yang minoritas– agar mulai ditujukan bagi mayoritas, para pejalan kaki dan pesepeda. Komunitas pesepeda mengampanyekan “share the road” agar pengendara mobil menerima keberadaan pesepeda di jalan raya sebagai sesama commuter dan agar mewaspadai dan saling menjaga keselamatan. “Share the road” tidak pernah dimaksudkan untuk berbagi jalan kepada pesepeda balap melainkan untuk para commuter sepeda.

Seharusnya membawa sepeda dengan mobil ke titik kumpul lalu berpeleton menguasai jalan raya bukanlah hal yang layak dibanggakan. Tetapi “street cruising” –memamerkan betapa keren sepedanya– memang membutuhkan audiens. Dan audiens ada di jalan raya yang siap untuk mengunggah ke media sosial.
Ketika itu difasilitasi pemerintah dengan jalur khusus, tentu membuat kita terpana. Namun kita maklumi bahwa ada dilema antara penegakan hukum dengan keberadaan fasilitas, sehingga hanya diizinkan pada hari dan jam tertentu saja.

Di antara mereka pasti ada yang bukan berniat “street cruising” melainkan benar-benar ingin mengasah ketrampilan. Andai saja velodrome Jakarta memiliki fasilitas untuk umum dan untuk segala jenis sepeda, bahkan untuk para difabel –seperti Lee Valley Velo Park di Inggris– mungkin bisa menjadi solusi yang menarik.