Baju yang kita kenakan

Banyak yang tak menyadari bahwa menolak adanya fasilitas yang memadukan sepeda dan kereta (saat ini baru MRT Jakarta dan dan LRT Jakarta) itu ibarat memaksakan baju sendiri untuk orang lain.

Padahal yang pas dan sesuai untuk diri sendiri tak otomatis cocok untuk orang lain.

“gerbong ‘kan untuk orang. kalau sepeda boleh masuk, ruang untuk orang jadi diambil untuk sepeda,” kata yang keberatan.

atau kata yang lain, “kenapa tidak dinaiki saja sepedanya. ‘kan sudah memilih pakai sepeda.”

atau yang lain lagi: “boleh, tapi jangan arogan.”

Foto Twitter @mrtjakarta

Pertanyaannya: kenapa harus melihat dari sudut pandang yang cenderung berkonflik? kegunaan gerbong, apakah mau dipakai untuk penumpang atau barang, atau campuran penumpang dan barang, terserah operator keretanya—walau tetap menimbang suara penggunanya.

Tidak ada kewajiban bahwa gerbong untuk penumpang ya harus untuk penumpang saja.

Gerbong yang sebagian ruangnya disediakan juga untuk pengguna sepeda sudah lazim di sejumlah negara eropa. dan memang ada manfaatnya, di antaranya adalah meningkatkan mobilitas lebih banyak orang dengan menggunakan angkutan massal dan sepeda.

European Cyclists’ Federation malah belum lama yang lalu berhasil mendesakkan usul agar semua kereta di eropa mengizinkan orang membawa sepeda ke dalam gerbong.

Foto Twitter @EuCyclistsFed

Dari segi kemudahan mobilitas, juga akses terhadap penggunaan sarana transportasi/mobilitas, kombinasi sepeda dan kereta memungkinkan orang tetap bersepeda jika jarak yang harus ditempuh tergolong jauh, dari rumah ke kantor, dari rumah ke entah tujuan mana lagi.

Selain itu, faktanya adalah ada orang-orang yang memang tak sanggup total bersepeda untuk mencapai tempat tujuannya. mereka yang hanya perlu bersepeda untuk jarak dekat—dari rumah ke stasiun/halte, dari stasiun/halte ke tujuan akhir—banyak.

Banyak pula dari mereka yang melakukan itu punya keterbatasan-keterbatasan. mereka sudah mau bersepeda saja sudah bagus, jika diletakkan dalam konteks bahwa kita harus sungguh-sungguh mengatasi problem kota berupa polusi (dan implikasinya terhadap krisis iklim), kemacetan, tingkat kematian yang tinggi akibat kecelakan di jalan, dan risiko kematian dini karena gaya hidup malas bergerak.

Jadi, buat yang masih berpikir mau memaksakan baju sendiri kepada orang lain, sebaiknya ubah sudut pandang. jangan melihat dari diri sendiri atau paling kurang dari penglihatan pengguna kendaraan bermotor pribadi.