Bersepeda di Jantung Borneo sambil Menyibak Panorama Hutan Hujan Tropis


B2W Indonesia|Pontianak- Keindahan hutan hujan tropis alami di Pulau Borneo pastinya sudah tersohor ke penjuru dunia. Udara yang segar, serta langit tabur bintang di malam hari hanya bisa dinikmati di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kota. Bunyi-bunyian alam membawa ketenangan, melepaskan penat keseharian. Hembusan angin, dan gesekan dedaunan dari rimba Borneo, yang masih menyimpan rahasia jutaan tahun perubahan bentang alam. Kisah-kisah dari penggalan alur rantai makanan dalam suatu habitat; yang bertahan di alam atau di makan.

Kenikmatan menjelajah alam di kawasan jantung Borneo ini dapat dinikmati bersama-sama komunitas sepeda di tanah air. “Masih dalam rangkaian Festival Danau Sentarum, maka even Bersepeda di Jantung Borneo ini kembali di gelar,” tukas Roni Wang, koordinator ‘Bersepeda di Jantung Borneo‘ yang akan dihelat pada 28 Oktober 2018. Kegiatan yang digelar bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda tersebut, dimaksudkan agar menggugah semangat seluruh lapisan masyarakat, untuk dapat berkontribusi dalam isu-isu penyelamatan lingkungan.

Pendekatan wawasan lingkungan dengan mengajak peserta mengenal lebih dekat kawasan-kawasan yang akan dijelajahi, menurut Roni merupakan hal yang paling penting. Hutan hujan tropis merupakan bagian dari berbagai siklus yang mempengaruhi cuaca di muka bumi. “Peran kecil dari segelintir masyarakat di kawasan itu, sedikit banyak dapat membawa perubahan besar untuk mengatasi perubahan iklim,” tambahnya.

Peserta akan menjadi saksi, bahwa kerja-kerja masyarakat di tingkat tapak bisa memberikan kontribusi sebagai mitigasi dalam perubahan iklim. Peserta Bersepeda di Jantung Borneo II ini, akan membawa kisah ke masyarakat luas sehingga mendorong langkah lebih besar dengan melibatkan lebih banyak orang pula.

Kegiatan ini juga membawa manfaat bagi masyarakat yang dikunjungi, sebagai multiplier effect. “Masyarakat setempat mendapatkan gambaran bahwa peluang ekonomis tidak hanya didapat dari memanfaatkan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui. Dengan menjaga alam pun, nilai ekonomis yang didapat juga bisa berlipat ganda,” paparnya.

Rute bersepeda akan dimulai dari Sri Aman, Malaysia, melintasi Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Badau dan berakhir di Lanjak/Danau Sentarum, Batang Lupar, Kapuas Hulu. Jarak tersebut ternyata dua kali lebih jauh dari even serupa tahun lalu.

“Jaraknya 141 kilometer dengan melintasi dua negara yaitu Malaysia dan Indonesia,” tukasnya. Hingga kini, jumlah peserta yang mendaftar sudah banyak. Bahkan ada yang berasal dari ujung Timur Indonesia, Jayapura. Selain itu, tercatat pula peserta dari Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo, Berau, Garut, Pontianak dan Sabah Malaysia.

Panitia masih membuka pendaftaran peserta dari nusantara maupun mancanegara hingga September mendatang. Sebagai persiapan, panitia telah menyusuri rute yang sama pada tanggal 20-22 Juli lalu.

“Secara keseluruhan medan yang dilalui adalah jalan aspal mulus naik turun bukit dengan hamparan keindahan alam yang akan ditemui selama perjalanan,” ungkap Roni.

Dalam even bersepeda ini, peserta juga dapat berinteraksi dengan penduduk setempat. Bersepeda di batas negeri ini diagendakan menjadi salah satu cara mempromosikan kegiatan bersepeda, mengampanyekan budaya hidup hemat energi, sekaligus mempromosikan aset wisata, khususnya yang ada di wilayah Kalimantan Barat.

Syarat sebagai peserta cukup menyediakan dokumen paspor dan membawa sepeda saja. Jenis sepeda bebas. Sepeda lipat, sepeda gunung, sepeda balap, semua jenis ini bisa digunakan.

Tahun ini, sebenarnya cukup istimewa. Festival Danau Sentarum, yang merupakan agenda tetap pariwisata Kalimantan Barat, juga masuk dalam Calender of Event Kementerian Pariwisata. “Festival ini juga masuk dalam 100 Wonderful Event of Indonesia 2018,” kata Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat, Natalia Karyawati.

Keberhasilan even serupa tahun lalu memicu pemerintah daerah untuk dapat terus memggenjot sektor pariwisata di Kabupaten yang terletak di ujung Kalimantan Barat itu. Terlebih secara statistik daerah mencatat, jumlah wisatawan mancanegara yang datang jauh lebih banyak dibanding wisatawan Nusantara.

“Border lintas negara yang memenuhi standar international juga merupakan salah satu potensi untuk mendongkrak jumlah wisatawan mancanegara makin banyak,” lanjutnya.

Kementerian Pariwisata pun melakukan publikasi khusus ditingkat nasional untuk promosi kegiatan ini. Sedianya Festival Danau Sentarum akan dilakukan pada tanggal 25 hingga 28 Oktober 2018. Tema yang diangkat adalah “Memacu Ekowisata Lintas Batas di Jantung Borneo”. Tujuannya tak lain adalah mempromosikan daya tarik ekowisata di daerah tersebut.

Kegiatan ini dilangsung di empat tempat, yakni; Putussibau, Lanjak, Badau dan Sri aman. Lanjak, Badau, dan Sriaman. Danau Sentarum sendiri berada di bawah pengelolaan Balai Taman Nasional Betung Kerihun – Danau Sentarum, di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Pihak TNBK-DS nantinya akan mengupayakan, homestay berupa rumah betang sebagai salah satu sarana akomodasi. Selain itu, ada juga hotel dan glam camp sebagai alternatif pilihan akomodasi selama festival berlangsung.

Staff ahli Kementerian Pariwisata Bidang Multikultural, Esthy Reko Astuti, mengharapkan even ini tidak hanya menarik wisatawan lokal namun juga meningkatkan wisatawan yang melewati cross border yang ada di Badau maupun Lubuk Antu, Serawak Malaysia dalam konferensi pers Festival Danau Sentarum di Gedung Sapta Pesona pada Senin, 13 Agustus 2018, lalu.

Tahun ini, Provinsi Kalimantan Barat memiliki dua kegiatan besar. Selain Festival Danau Sentarum, even besar lainnya adalah perayaan Cap Go Meh di Kota Singkawang.

Beragam kegiatan menarik akan digelar selama tiga hari. Di antaranya adalah Danau Sentarum Cruise, Parade Perahu Tradisional, Sentarum Ethnic Music Festival, Kontes Arwana Super Red, Karnaval Budaya, Festival Minum Madu, serta Pagelaran Seni Budaya dan Hiburan Masyarakat. Untuk kontes Arwana akan diselenggarakan di Putussibau. Sementara, lomba dan gelaran lainnya akan dipusatkan di Lanjak, terutama di wilayah Danau Sentarum.

Luasnya Danau Sentarum membuat para wisatawan harus menempuh perjalanan selama satu minggu untuk mengelilingi seluruh area. Itu pun harus didampingi oleh pemandu. Untuk itu, pemerintah Kalimantan Barat mengadakan Danau Sentarum Cruise untuk menjelajahi Danau Sentarum hingga Pulau Melayu menggunakan perahu bandong. Perahu bandong sendiri biasa digunakan untuk mengangkut barang seberat 200 ton. Sehingga memiliki daya tampung yang cukup luas untuk menampung ratusan orang. Masih dalam rangkaian festival, wisatawan dapat memiliki beragam kriya khas Kapuas Hulu, yang akan dijual dalam Danau Sentarum Expo 2018.

“Tak hanya tenun, atau anyaman masyarakat setempat yang dapat dibeli. Wisatawan dapat pula menikmati kuliner khas tempatan.

Di Jakarta, Bupati Kapuas Hulu, AM Nasir, berharap agar festival ini juga sebagai pintu masuk bagi investor, terutama di sektor jasa pariwisata. “Selain itu, diharapkan festival ini dapat meningkatkan rasa bangga masyarakat akan alam dan budaya yang dimiliki. Serta menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Nasir. (R).

Sumber: Om Rudi Agus|B2W Pontianak

Tags: , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

. .