Sejarah & Opini Seputar Bike To Work Indonesia

SEJARAH B2W Indonesia – B2W adalah gerakan moral yg lahir dari keprihatinan akan kemacetan, om Totopemborosan energi & meningkatnya polusi yg akan berakibat pada degradasi kecerdasan & mental manusia Indonesia.
Berawal dari sekelompok penggemar kegiatan sepeda gunung (Komunitas Jalur Pipa Gas) lahirlah KOMUNITAS PEKERJA BERSEPEDA (Bike to Work Community) yang kemudian dideklarasikan di Balaikota DKI Jakarta pada Agustus 2005 yang dihadiri kurang lebih 750 pesepeda dari berbagai komunitas yg diprakarsai oleh Om Anton (Alm), Om Tekad, Om Toto & Om Taufik.
Akhir 2005 terbentuk organisasi B2W yg pertama yg diketuai oleh Om Taufik dan Om Toto sebagai ketua harian.
Pada February 2006 dikarenakan kesibukan Om Taufik, kepengurusan B2W berubah, ketua umum menjadi Om Toto dan ketua harian adalah Om Odjie.
Pada akhirnya, kampanye ini pun mengakumulasi pada acara B2W Day di Bundaran HI pada tanggal 27 Agustus 2006 yang dihadiri sekitar 1.300 pesepeda dari seluruh wilayah di Jakarta. Kampanye tersebut terbilang sukses karena menarik perhatian seluruh media cetak dan elektronik nasional.

“Mudah-mudahan kita tidak terlalu terlena dan puas,” ujar Toto Sugito yang saat ini adalah Co-founder B2W Indonesia, “(karena) masih banyak dan panjang sekali pekerjaan yang harus kita lakukan untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi alternatif dan juga mewujudkan jalur prioritas sepeda dan fasilitasnya di kota-kota besar pada umumnya dan di Jakarta khususnya. Kesabaran dan konsistensi yang tinggi masih kita butuhkan untuk merealisasikan cita-cita kita.”

Visi dan Misi dari komunitas B2W Indonesia merupakan wujud kepedulian kita terhadap peningkatan kualitas manusia Indonesia secara fisik maupun psikis, serta terhadap permasalahan lingkungan hidup yang terjadi saat ini.

Jadi, bisa disimpulkan BAHWA:

  • B2W adalah gerakan moral yg lahir dari keprihatinan akan kemacetan, pemborosan energi & meningkatnya polusi yg akan berakibat pada degradasi kecerdasan & mental manusia Indonesia
  • Kenapa kita harus berkolaborasi dengan klub/perkumpulan sepeda? Karena gerakan secara sporadis tidak akan membuahkan apapun. Atau bila terjadi, akan sangat kecil gaungnya.
  • Apapun klub/perkumpulannya & jenis sepedanya, mari kita bergerak serentak menggaungkan Gerakan Bersepeda.
  • Kalo ditanya kenapa B2W yang katanya gerakan moral tapi punya struktur organisasi? Itu karena kita perlu melakukan hubungan sosial dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah. Kita tidak punya teritori, tapi pemerintah mulai dari lurah, camat sampai gubernur & presiden punya. Itu sebabnya kita harus punya jalur komunikasi dengan pemerintah, sehingga akan membantu mempermudah cita-cita organisasi ini melalui visi misinya.

OPINI SEPUTAR B2W Indonesia – Adalah om Poetoet Soedarjanto (Om nDlahom) yang ber-opini dan yang beberapa tahun mencermati dan mencoba ikut di dalam pengemOm Poetoet-1bangan B2W Indonesia, menemukan hal-hal keliru (kelirumonologi) di seputar b2w-indonesia, antara lain:

  • “Ada anggapan bahwa b2w-indonesia adalah klub sepeda, sehingga kalau sudah punya klub sepeda gak perlu lagi ikut-ikut b2w”, hal yang wajar jika ada anggapan ini tapi tetap saja INI KELIRU, b2w-indonesia adalah sebuah komunitas yang berbentuk organisasi resmi yang mewadahi gerakan moral untuk menjadikan sepeda sebagai alat transportasi alternative,  secara organisasi b2w-indonesia tidak membawahi klub/organisasi lainnya, karena berupa “gerakan moral” maka struktur organisasi b2w-indonesia hanya mengenal b2w-indonesia (pengurus pusat) kemudian b2w-wilayah kemudian rombongan, supaya ada keleluasaan bagi setiap individu yang memiliki kesamaan pandangan terhadap visi misi b2w-indonesia dapat bersama-sama mengembangkan gerakan moral ini dengan apapun jenis sepeda yang dimiliki, apapun klub/organisasi sepeda yang dimiliki atau tidak memiliki klub sepeda sekalipun…. dan bahkan b2w-indonesia mendorong tumbuh suburnya klub sepeda, sehingga kesimpulannya bahwa b2w-indonesia adalah sebuah organisasi gerakan moral yang “cair”.
  • “Definisi Bike to Work adalah Bersepeda ke kantor”, ini KELIRU BESAR, kata “work” disini bukan berarti “kerja” tetapi bermakna lebih luas, yaitu “aktifitas” sehingga apapun aktifitasnya jika menggunakan sepeda sebagai sarana transportasinya, maka itu adalah bike to  work (termasuk istri saya jika pergi ke pasar hahahahahaaaaa).
  • “Bike to Work berada dibawah naungan Komite Sepeda Indonesia (KSI)”, sama sekali TIDAK, b2w-indonesia secara organisasi tidak pernah menyatakan dirinya berada dibawah naungan KSI ataupun organisasi lainnya termasuk partai politik, pun juga tidak membawahi organisasi lainnya, yang dilakukan b2w-indonesia adalah menganggap bahwa organisasi yang memiliki tujuan yang kurang lebih sama atau mau mendukung gerakan moral b2w-indonesia dianggap sebagai “partner/mitra” termasuk disini ISSI, KONI, institusi swasta, NGO, dll.
  • “B2W-Indonesia itu hanya mau kerjasama dengan produsen,provider, vendor-vendor tertentu saja”. Hal ini JUGA KELIRU, b2w-indonesia tidak pernah menyatakan hal yang demikian, memang betul b2w-indonesia ada kerjasama dengan vendor-2  tertentu tetapi bukan berarti kerjasama ini mengikat selamanya, peluang sangat terbuka bagi vendor lain yang sejenis namun  ada batasan-batasan yang harus disepakati bersama dan tentu saja juga harus melihat klausul kontrak kerjasama dengan vendor sebelumnya.
  • “Untuk menjadi anggota b2w-indonesia harus memberikan iuran bulanan”  TIDAK ADA aturan khusus perihal ini, kalaupun ada iuran di b2w-wilayah inipun juga tidak mengikat tergantung kesepakatan anggota masing-masing wilayah, hampir semua wilayah tidak menerapkan aturan ini, lalu darimana dana aktifitas ? kawan-kawan pengurus baik di pusat maupun di wilayah cukup cerdas di dalam menyiasatinya, diantaranya gandeng sponsor, penjualan merchandise, dan tentu saja “saweran” ketika ada event (ini jalan terakhir), namun demikian b2w-indonesia akan sangat berterima kasih apabila ada individu maupun institusi yang berkenan memberikan donasi. Naaaahh karena seringkali pihak sponsor selalu menanyakan jumlah anggota di suatu wilayah, maka ada baiknya individu yang merasa menjadi bagian dari b2w-indonesia berkenan mengisi formulir keanggotaan dan dijamin data akan disimpan rapih dan di pertanggung jawabkan oleh pengurus.
  • “Memiliki sepeda mahal merupakan salah satu syarat menjadi anggota” di banyak wilayah sering ditemukan anggapan demikian,…. dan INI KELIRU…. Asal sepeda dan bisa digowes, sudah cukup untuk menjadi anggota b2w-indonesia.
  • Hanya sepeda MTB dan folding saja yang diakui di b2w-indonesia, dan ini KELIRU TOTAL, ada jargon baru (ide kreatif b2w-kudus): ”Bersepeda Tunggal Ika” berbeda-beda sepeda tetapi tetap ngonthel juga, makna dari jargon ini adalah apapun jenis sepedanya mari ber bike to work.
  • “Penjualan merchandise b2w-indonesia itu sama dengan penjualan yang dilakukan pedagang kaki lima” ini PANDANGAN BODOH & KELIRU dari seseorang yang nggak ngerti b2w-indonesia (atau pura-pura nggak ngerti), sekali lagi bahwa b2w-indonesia adalah organisasi gerakan moral maka salahsatu cara untuk menjalankan roda organisasi adalah dengan cara mencari dana melalui penjualan merchandise yang sering kali harus memanfaatkan  berbagai event/moment, memang harus buka lapak tetapi bukan berarti ini sama dengan pedagang kaki lima.
  • “Kalau menjadi panitia event b2w-indonesia akan dibayar” hahahahahahahaaaaaaa KELIRU PAKE BANGET !! Kalau memang demikian, saya sudah upgrade sepeda berkali-kali… yang diperlukan oleh b2w-indonesia adalah individu-individu yang memiliki jiwa volunteer, kalaupun ada fee/uang lelah disuatu event itu tidak lebih dari upaya pengurus untuk mengganti biaya pribadi yang sudah dikeluarkan, misal : pulsa telepon, makan, akomodasi, dll. Nilainyapun seringkali sungguh tidak sebanding bila diadu dengan pengorbanan waktu, biaya dan tenaga para individu tersebut (salam hormat dan penghargaan yang setinggi-tingginya untuk semua sahabat yang selama ini aktif mengembangkan gerakan b2w-indonesia dimanapun)..…
  • “b2w-indonesia sekarang sudah komersil, sedikit-sedikit mesthi uang” ahaaaa,..pendapat ini beberapa kali “bersliweran” disekitar saya,.. sebuah hal yang sangat wajar karena pandangan ini muncul  dari sebuah “kekeliruan”  informasi, KELIRU ketika menerima informasi yang tidak lengkap (tidak utuh/sepotong), keliru ketika mendapatkan informasi dari “oknum” yang mencoba memanfaatkan b2w-indonesia (sebagai contoh : jika ingin mengajak tim saya (mengaku tim dari b2w) sebagai marshall fun bike maka harus menyediakan dana marshall sebesar 20 juta per event,….glek!!!, padahal seumur-umur b2w-indonesia tidak pernah “jualan” marshall), contoh diatas adalah hal nyata yang dilakukan seorang “oknum” . Sekali lagi bahwa organisasi ini memang memerlukan dana operasional, sehingga diperlukan cara-cara cerdas di dalam mengelola manajemen keuangan organisasi termasuk di dalamnya adalah sumber-sumber pendapatan dan kebijakan pengeluaran keuangan, namun bukan berarti dalam mencari dana akan melakukan hal seperti yang dilakukan oleh oknum diatas, naaaahhh  jika saat ini melakukan berbagai terobosan dalam rangka mencari dana operasional apakah hal tersebut dianggap komersil ? kok rasanya keliru !!

#Salam Satu Sepeda Sejuta Sahabat !
#Salam Satu Sepeda Satu Indonesia !

Comments are closed.
. .