Bagaimana Membuat Jakarta Kota yang Ramah untuk Bersepeda?


LogoB2W Indonesia-Pada Minggu, 1 Mei 2016, komunitas sepeda Bike2Work Indonesia, para duta besar, dan perwakilan dari Pemerintah Kota Jakarta berkumpul dalam sebuah acara khusus yang mempromosikan bersepeda di Jakarta. Acara ini diselenggarakan sebagai bagian dari pemutaran film dokumenter Swedia “Bikes vs Cars” di festival film Europe on Screen 2016.

DiscussieFestival film Europe on Screen (EOS) tahun ini akan menampilkan 78 film dari berbagai film maker Eropa yang terkemuka, termasuk film-film yang telah memenangkan penghargaan maupun berbagai film dokumenter dari sutradara baru terbaik. Film dokumenter Swedia “Bikes vs Cars” adalah salah satunya dan akan pertama kali diputar pada Minggu, 1 Mei 2016 di Erasmus Huis, Jakarta disertai dengan sesi diskusi panel yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Swedia bekerjasama dengan komunitas Bike2Work Indonesia, Kedutaan Besar Norwegia, dan Pemerintah Kota Jakarta.

Dalam fringe event pemutaran film “Bikes vs Cars” ini, acara diawali dengan Bike2Film atau bersepeda bersama komunitas sepeda Bike2Work Indonesia dari Taman Suropati ke lokasi acara yang kemudian diikuti dengan menikmati hidangan brunch khas Scandinavia, pemutaran film dan diskusi panel. Dengan Duta Besar Swedia untuk Indonesia, Johanna Brismar Skoog, sebagai moderator diskusi, para panelis adalah termasuk Deputi Gubernur DKI Jakarta bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup, Oswar Muadzin Mungkasa, Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta, Andri Yansyah, Chairman Bike2Work Indonesia, Toto Sugito, pecinta sepeda yang juga penggiat kemanusiaan, Ina Madjidhan, serta Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, Stig Traavik.

Dengan perkiraan sekitBike2Film-ar 15 juta penduduk dan hampir 14.000 orang per kilometer persegi, Jakarta merupakan salah satu kota yang paling padat penduduknya di Asia. Beberapa inisiatif telah diambil untuk mempromosikan berjalan kaki dan bersepeda, seperti Car Free Day (CFD) dan perluasan trotoar di sepanjang kawasan Thamrin – yang kini rencana tersebut diperluas hingga ke kawasan Sudirman. Jalur-jalur untuk bersepeda juga telah tersedia di beberapa kawasan, tetapi kritik yang muncul mengungkapkan bahwa jalur tersebut justru dibanjiri oleh mobil dan sepeda motor. Diskusi dengan tema “Bagaimana membuat Jakarta kota yang lebih ramah sepeda?” ini diharapkan mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana kota Jakarta mampu menyertakan pesepeda dan pejalan kaki dalam skema perencanaan kota? Bagaimana peranannya dalam mewujudkan kota yang lebih ramah lingkungan? Serta bagaimana peraturan-peraturan yang sudah ada yang bertujuan untuk melindungi hak-hak pesepeda dan pejalan kaki (UU No.22 Tahun 2009; Pasal 25 Ayat 1 huruf g; Pasal 45 Ayat 1 huruf b; Pasal 62 Ayat 1; Pasal 62 Ayat 2; Pasal 106 Ayat 2) dapat ditegakkan dengan lebih baik lagi?20160501_102347_resized

Toto Sugito mengatakan bahwa mobil pribadi dan sistem lalu lintas yang buruk adalah hal-hal yang menyebabkan kemacetan di Jakarta. Menurutnya, transportasi massal perlu dibenahi untuk mengurangi banyaknya penggunaan kendaraan pribadi. “Sebagai moda transportasi tidak bermotor, pejalan kaki dan pesepeda harus difasilitasi dengan baik agar ketika transportasi massal telah memadai para pesepeda dan pejalan kaki pun bisa menjadi feeder untuk transportasi massal. Dengan meningkatnya jumlah angkutan umum di Jakarta, saya berharap Gubernur Ahok, seperti yang dijanjikan, dapat terus meningkatkan berbagai fasilitas terutama dengan menyediakan trotoar dan jalur sepeda yang layak untuk pejalan kaki dan pesepeda agar integrasi transportasi massal dapat direalisasikan,” tambahnya.

20160501_093000-Di masa kini, sepeda tampaknya kian terlupakan oleh peradaban karena masyarakat terlalu bergantung pada mobil mereka. Kondisi yang terjadi secara global tersebut telah dihadapi dengan berbagai macam perjuangan, termasuk oleh para pesepeda yang berusaha untuk membuat kota yang lebih ramah sepeda, ramah lingkungan hingga terkadang tampak seperti “berperang” dengan sesama pengguna jalan lainnya. Dengan penceritaan yang berpotensi revolusioner disertai dengan ketajaman dan humor, film “Bikes vs Cars” membahas tentang perjuangan para pesepeda dalam masyarakat yang didominasi oleh mobil, serta tentang perubahan besar bagi dunia maupun individu manusia yang mungkin terjadi jika lebih banyak kota berubah dari model yang berfokus pada mobil (car-sentric models).

20160501_103345_resizedFilm dokumenter besutan sutradara asal Swedia, Fredrik Gertten, yang telah memenangkan penghargaan ini akan diputar selama festival film Europe on Screen 2016 dengan lokasi di Erasmus Huis, Jakarta (1 Mei) dan Institut Francais Indonesia, Jakarta (8 Mei) – dan ini merupakan pemutaran yang pertama kalinya di Indonesia. Film “Bikes vs Cars” diluncurkan pada pertengahan Maret tahun lalu di ajang South by Southwest (SxSW) 2015 – ajang pemutaran film, media interaktif, dan festival musik dan konferensi tahunan yang berlangsung di Austin, Texas, Amerika Serikat.

#Salam Satu Sepeda Sejuta Sahabat!
#Satu Sepeda Satu Indonesia!
#TrotoarUntukPejalanKaki!

Tags: , , , , , , ,

No comments yet.

Leave a Reply

. .